Kamis, 31 Januari 2019

Doktrin Tentang Manusia dan Dosa

MAKALAH
Disusun dan Diajukan
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk
Menyelesaikan Mata Kuliah Sistematika II
Pascasarjana Sekolah Tinggi Teologi Real Batam
KELOMPOK 3
MANGADAR, S.Pd
 JUNI SRIYANTI SIMANJUNTAK, S.Pd.K
EFFRAT ASSO, S.Th

 












PROGRAM PASCASARJANA
SEKOLAH TINGGI TEOLOGI REAL
BATAM

2017



BAB I
PENDAHULUAN
            Menurut gambar dan rupa Allah (imagodei) adalah hakikat penciptaan yang sesunggunya. Dari awal penciptaan dirancang oleh Allah, dijadikan sesuai dengan apa yang Allah inginkan. Hanya dengan berfirman maka apa yang ingin Allah ciptakan jadi sesuai dengan apa yang sudah Allah firmankan. Dan saat menciptakan manusia adalah satu proses yang sangat unik dan berbeda dari ciptaan lainnya. Dimana manusia diciptakan tidak hanya dengan firman akan tetapi Allah sendiri yang berkarya, membentuk ciptaan itu sesuai dengan apa yang Allah inginkan ( Kej 1:26 ). Manusia berusaha untuk memahami sudut pandang Allah dalam segala aspek dari maksud dan tujuan Allah dalam kehidupan manusia. Dan semua hal yang dilakukan oleh manusia memiliki sumber yaitu Allah. Apapun yang sedang dilakukan manusia semuanya merupakan pertanggungjawaban kepada Allah. Walaupun dalam perjalanan kehidupan manusia ada penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan manusia sehingga manusia menjadi berdosa. Manusia melanggar apa yang Allah perintahkan sebagai suatu bukti nyata bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Manusia kehilangan kemuliaan Allah dengan satu pelanggaran yang menjadikan hubungan Allah dengan manusia menjadi renggang, manusia malu bertemu dengan Allah sehingga manusia bersembunyi saat Allah datang mencari mereka.
            Dalam bukunya Thomy J. Matakupan dan Julio Kristano ada beberapa hal penting yang harus dipelajari tentang doktrin manusia dan dosa:
1. Menolong manusia itu sendiri untuk memahami siapakah Allah
2. Membawa manusia untuk memahami dirinya sesuai dengan tujuan penciptaanya.
3. Menolong setiap orang percaya memahami kehidupan barunya sebagai umat tebusan Allah didalam Kristus Yesus
4. Menolong memahami natur Kristus, dalam kaitannya dengan natur manusia, oleh karena Kristus didalam tubuh inkarnasi-Nya sebagai manusia sejati menunjukkan bagaimanakah sehatrusnya seorang manusia hidup dihadapan Allah
5. Membawa manusia untuk memahami tingkatan kehidupan yang lebih tinggi, anggun, mulia, terhormat, dan agung
6. Memperlengkapi setiap pelayanan penginjilan dan pastoral dengan memberikan pemahaman mengenai keberadaan manusia dihadapan Allah dan mengapa manusia membutuhkan Injil secara mutlak
7. Menolong manusia untuk memahami semua doktrin lainnya di dalam Alkitab
            Dari uraian diatas sangat jelas bahwa Allah memiliki rencana yang besar bagi manusia sebagai pengeolola dan penguasa atas semua ciptaan yang ada. Allah member kepercayaan yang penuh kepada manusia untuk menjadi penguasa atas seluruh ciptaan yang ada. Gambar dan rupa Allah di dalam diri manusia membedakan manusia dari ciptaan yang lain. Namun dosa telah merusak semua kehormatan dan kemuliaan yang diberikan Allah kepada manusia.


BAB II
MANUSIA dan DOSA
            Dalam perspektif Kristen manusia adalah ciptaan Allah, yang diciptakan menurut rupa dan gambar Allah. Tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan teori evolusi yang sangat terkenal itu. Manusia adalah karya Allah yang diciptakan secara sadar sistematis serta punya tujuan. Gambaran dan sifat Allah itu menjadi bagian dasar dari manusia. Secara khusus perlu diperhatikan bahwa meskipun Allah mengomunikasikan atribut-Nya kepada manusia, Allah tetap berbeda dengan manusia secara kualitatif. Semua atribut yang dimiliki Allah bersifat tidak terbatas atau dikenal dengan istilah “maha” sementara atribut Allah yang dimiliki manusia berada didalam keterbatasan. Sama seperti soerang yang berdiri di depan cermin. Walaupun gambaran yang terdapat di dalam cermin mempunyai keakuratan sempurna dengan diri orang tersebut, tetap ada perbedaan kualitas diantara keduanya.[1]
Dalam bukunya Millard J Erickson berkata bahwa :
“Manusia juga memiliki dimensi abadi. Manusia memiliki sebuah awal keberadaan yang tertentu. Namun dia diciptakan oleh Allah yang abadi, sehingga dengan demikian manusia memiliki masa depan yang abadi pula. Jadi, apabila ditanyakan apa yang terbaik untuk manusia, kita jangan menjawabnya hanya berkenaan dengan kesejahteraan sementara serta kesenangan hidup jasmaniah. Di dalam manusia terdapat dimensi lain (yang jauh lebih penting) dan yang harus dipuaskan. Oleh karena itu, tidak ada untungnya bagi manusia untuk mengelak kenyataan akan tujuan hidupnya yang terletak dalam keabadian itu”.[2]

 MANUSIA
Di luar Alkitab, kita mengetahui bahwa manusia didefinisikan secara berbeda-beda, melalui pendekatan dan penekanan yang berbeda-beda. Lalu apakah yang dikatakan Alkitab mengenai manusia? Kita akan memahami definisi  manusia dengan memperhatikan apa yang pertama kali Alkitab katakan mengenai manusia, yaitu penciptaannya. Ayat yang paling jelas menyatakan hal tersebut adalah Kejadian 1:26, baik dalam Alkitab bahasa Indonesia, dan Alkitab versi New King James Version, sebagai berikut:
Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."
Then God said, "Let Us make man in Our image, according to Our likeness; let them have dominion over the fish of the sea, over the birds of the air, and over the cattle, over all the earth and over every creeping thing that creeps on the earth."

Kejadian 1:26 merupakan ayat yang pertama kali membicarakan manusia. Ayat tersebut berbicara dalam konteks penciptaan manusia. Hal tersebut membawa kita kepada suatu definisi utama sekaligus pertama mengenai manusia dalam Alkitab, yaitu satu-satunya makhluk yang diciptakan Allah menurut gambar dan rupa Allah. Karena setelah ayat ini pun, tidak ada ayat lain di dalam Alkitab yang menyatakan bahwa ada ciptaan lain yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Tetapi, apakah sebenarnya arti dari diciptakan menurut gambar Allah?

Prof. Sung Wook Chung [3] mengartikan diciptakan menurut gambar Allah dalam ketiga pandangan yang menyeluruh, yaitu substantif, relasional, dan fungsional. Substantif dalam arti manusia memiliki akal budi dan kehendak bebas sebagai gambar Allah di dalam manusia yang membedakan manusia dengan binatang (pandangan Agustinus). Luther dan Calvin mengadaptasi posisi Agustinus dan menambahkan bahwa karakteristik-karakteristik moral juga merupakan karakter dari gambar Allah.
Pandangan relasional menyatakan bahwa gambar Allah, bukanlah suatu unsur yang dilimpahkan ke dalam seorang manusia, melainkan merupakan kemampuan manusia untuk menjaga relasi dengan Allah dan orang-orang lain. Pandangan ini dianut oleh teolog-teolog Neo-ortodoks, seperti Emil Brunner dan Karl Barth. Karl Barth secara khusus terkenal karena pendapatnya bahwa manusia-manusia mampu untuk bereksistensi di dalam relasi dengan Allah dan orang-orang lain, khususnya karena mereka diciptakan di dalam gambar Allah Tritunggal yang bersifat relasional.
Pandangan ketiga adalah pandangan fungsional yang mulai meraih perhatian pada abad ke-20. Menurut pandangan ini, gambar Allah bukanlah karakteristik dasar atau pun kemampuan umat manusia untuk membangun relasi-relasi, melainkan gambar Allah diwujud nyatakan dalam tujuan atau fungsi manusia untuk menampilkan karya-karya natur Ilahi. Allah memanggil manusia untuk menjadi wakil pengawas atas ciptaan. Dengan demikian, Allah memerintahkan manusia untuk merefleksikan gambar-Nya dengan berfungsi sebagai raja atas ciptaan.
Ketiga pandangan tersebut secara menyeluruh yaitu substansi, relasional, dan fungsional, merupakan jawaban yang terbaik saat ini untuk menjelaskan arti dari “diciptakan menurut gambar Allah.” Secara substansi manusia mewarisi sifat-sifat Allah yang communicable (dapat dikomunikasikan) seperti kekudusan, kebijaksanaan, kebenaran, kasih, dan keadilan.
Secara relasional, manusia diciptakan dalam gambar Allah Tritunggal yang memiliki persekutuan dalam ketiga oknum Tritunggal dalam kesatuan-Nya. Gambar Allah secara relasional ini, terpancar dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial, yang tidak mampu hidup sendiri, tanpa melakukan hubungan sosial. Manusia sebagai makhluk sosial juga berarti bahwa manusia memiliki ketergantungan secara sosial terhadap manusia lainnya.
Secara fungsional, manusia memiliki peran manajerial atas dunia ini. Manusia dapat dikatakan memiliki jabatan sebagai raja atas dunia ini. Tetapi hal tersebut tidaklah berarti bahwa manusia dapat menggunakan alam semesta secara semena-mena, melainkan hal tersebut berarti manusia harus merefleksikan gambar Allah dalam diri-Nya dengan mengelola alam semesta secara bertanggung jawab bagi kemuliaan Allah pencipta-Nya.

Keadaan Manusia Pertama Diciptakan
Dalam bagian ini, kita akan membahas manusia yang mampu memancarkan gambar diri Allah sebelum manusia jatuh dalam dosa. Bagian ini tidak mungkin dibahas lepas dari definisi manusia. Hal tersebut disebabkan karena manusia didefinisikan sesuai dengan penciptaannya yang unik. Tidak ada satu pun perbedaan manusia dengan ciptaan lain, selain penciptaannya yang khas dan tujuan Allah dalam penciptaannya yang khas tersebut. Tanpa manusia diciptakan sesuai dengan gambar Allah, kita akan kehilangan makna sesungguhnya dari manusia, dan manusia tidak akan menjadi berbeda dengan binatang.
Prof. DR. Werner Gitt menyatakan, “Jika kita menolak fakta penciptaan, kita akan terseok-seok berputar-putar di semak belukar sistem pemikiran evolusi dan tidak akan bertemu dengan kebenaran.”[4]  Bila kita setuju dengan pendapat tersebut, maka kita akan menyimpulkan, bahwa tanpa fakta penciptaan, kita tidak akan menemukan kebenaran mengenai manusia. Apakah yang Alkitab katakan mengenai penciptaan manusia?
1)   Manusia Diciptakan Dari Debu Tanah

Kejadian 2:7 menyatakan, “Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Dalam ayat ini, Alkitab versi Indonesia Terjemahan Baru memberikan terjemahan yang baik. Dikatakan Allah “membentuk” manusia, dan bukannya “menciptakan”. Perlu sekali diketahui bahwa dalam bahasa Ibrani, istilah menciptakan sedikitnya diterjemahkan dari dua kata Ibrani, yakni בּרא (baca: bara) dan יָצַר (baca: yatsar). Definisi yang paling mendasar untuk kata בּרא (baca: bara) adalah menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada, sedangkan untuk יָצַר (baca: yatsar) adalah menyempurnakan/membentuk suatu ciptaan dari ciptaan yang sudah ada.[5]  “Menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya.” Dalam hal ini juga penciptaan manusia menjadi sangat unik. Karena tidak ada ciptaan lain dalam Kejadian 1 yang diberikan nafas hidup oleh Allah selain manusia, demikianlah melalui bagian ini dapat dimengerti suatu alasan utama atas keunggulan manusia dari ciptaan lainnya.

2)   Manusia Merefleksikan Diri Allah
Seperti telah dibahas dalam bagian sebelumnya, manusia adalah satu-satunya makhluk dalam alam semesta ciptaan Allah yang menerima nafas Allah sendiri. Nafas Allah yang diberikan kepada manusia, memampukan manusia untuk merefleksikan diri Allah, karena nafas Allah tersebut tidaklah diciptakan, melainkan dinafaskan oleh Sang Pencipta kedalam bentuk fisik dari manusia. Maka, di dalam diri manusia, terdapat diri Allah. Tentu saja bukan diri Allah yang sempurna. Melainkan hanya gambar diri-Nya yang diberikan langsung (tidak diciptakan) kepada debu tanah. 
Substansi/hakekat manusia mewarisi atribut-atribut Allah yang communicable (dapat dikomunikasikan), seperti hikmat, kebijaksanaan, akal budi, kehendak bebas, kesucian, kasih, dsb. Tetapi atribut-atribut tersebut tidak diberikan Allah secara sempurna, tetapi dalam suatu batasan yang jauh antara pencipta dengan ciptaan. Hal tersebut hanyalah cermin yang digunakan Allah untuk merefleksikan/memantulkan kemuliaan-Nya melalui manusia.
Maka, segala substansi Ilahi yang dimiliki manusia, ketika pertama kali diciptakan, tidak pernah dimaksudkan untuk membuat manusia bermegah di dalam dirinya sendiri. Melainkan, dimaksudkan untuk membuat manusia memuliakan Allah melalui dirinya. H. Henry Meeter [6] mengatakan:
“Manusia sebelum kejatuhannya dalam dosa pun, jika dibandingkan dengan Allah yang mulia, tidak ada artinya dan seperti kesia-siaan belaka. Semua bangsa-bangsa hanya ibarat debu halus di atas timbangan. Manusia yang belum terjatuh ke dalam dosa pun, sudah sepenuhnya bergantung kepada Allah. Apalagi manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa?”

DOSA
Pengertian dosa
Dalam Perjanjian Lama ada beberapa kata untuk dosa “Khatta”  yang pokok artinya adalah “tidak kena”. Dalam Perjanjian Baru dosa adalah “a nomia” ( 1 Yoh. 3:4). Jadi dosa adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.[7]  Kata dosa sudah lazim dipergunakan dikalangan Kristen. Dosa tidakalah sama dengan kejahatan, dosa itu tidak boleh dijadikan istilah etika manusia yang berbicara tentang pelanggaran pelbagai aturan atau kebiasaan. Tetapi kata dosa adalah istilah teologia yang langsung ada sangkut pautnya dengan hubungan anatara Allah dan manusia.[8] Menurut Becker pengertian dosa yaitu, dalam Perjanjian Lama, arti dosa dimengerti sebagai “ketidaktaatan” yaitu yang diungkapkan melalui istilah Pesya (pemberontakan), khatta (pelanggaran), danawon (perbuatan yang tidak senonoh). Sedangkan dalam Perjanjian Baru, Dosa juga diartikan sebagai “ketidaktaan” (Rom. 5:19). Ketidaktaan yang dimaksud tidak hanya melanggar hak dan hukum taurat Allah ( 1 Yoh. 3:4), tetapi juga melawan Allah sendiri.[9] Dosa ialah kegagalan, kekeliruan atau kesalahan, kejahatan, pelanggaran, tidak menaati hukum, kelaliman, atau ketidakadilan. Dosa adalah kejahatan dalam segala bentuknya.[10] Padahal dosa menurut Kej. 4:7, adalah musuh yang setiap saat telah mengintip di depan pintu hati manusia untuk memasukinya. Dosa senantiasa menyembunyikan diri dibelakang perbuatan-perbuatan yang tampaknya baik.[11]

Asal mula dosa
Dosa sudah ada di alam semesta sebelum Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa. Ini terbukti dari hadirnya penggoda (ular) itu di Taman Eden. Kejadian 3 menjelaskan jalannnya peristiwa pencobaan, si penggoda (ular) meyakinkan bahwa Hawa dan Adam akan menjadi sama seperti Allah , yakni mengenal mana yang baik dan mana yang jahat. Kepada keinginan jahat inilah perhatian Hawa dipusatkan dan keinginan inilah yang disoroti untuk melacak asal mula dosa.[12] Permasalahan mengenai asal mula kejahatan yang ada di dalam dunia telah dianggap sebagai salah satu masalah yang paling sulit dalam filsafat maupun teologi. Kejahatan ini bermula dalam pilihan bebas manusia, baik dalam eksistensi sekarang atau eksistensi sebelumnya.  Berkenaan dengan asal mula dosa dalam sejarah manusia, Alkitab mengajarkan bahwa dosa itu dimulai dengan pelanggaran Adam di Firdaus, dengan demikian dimulai juga dengan tindakan yang dilakukan oleh manusia dengan kesadaran penuh. Akan tetapi kemudian persoalannya tidak berhenti sampai disitu saja, sebab oleh dosa yang pertama itu Adam menjadi budak dosa yang tidak bebas. Dosa itu membawa kekotoran permanen, Allah memutuskan bahwa seluruh manusia adalah orang berdosa di dalam Adam, sama halnya dengan Ia memutuskan bahwa semua orang percaya menjadi benar di dalam Yesus Kristus. “Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar (Rom 5: 18-19)”. Berkenaan dengan semua ini maka jelas merupakan suatu penghujatan jika mengatakan bahwa Allah adalah pembuat dosa.[13]  Dalam Rom. 5:12 juga dikatakan bahwa “sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. Jadi ayat ini menunjukkan, bahwa dosa telah masuk kedalam dunia karena perbuatan Adam, atau oleh karena Adam melanggar perintah Tuhan Allah atau memberontak terhadap Tuhan Allah, maka pintu gerbang dunia terbuka bagi masuknya dosa kedalam dunia.[14] Karena dosa Adam, manusia sudah masuk kedalam lingkaran setan yang mengurungnya. Artinya, apa saja yang secara konkret diperbuat oleh manusia , hanya mengukuhkan saja perbudakannya terhadap dosa, biarpun perbuatan konkret itu dilakukannya secara bebas dan atas tanggung jawab sendiri. Dari dirinya sendiri manusia tidak dapat keluar dari lingkaran ini. Yang dapat menyelamatkan manusia dari kuasa dosa ialah Allah.[15]

Hakikat Dosa
Sebenarnya segala tabiat dosa, baik dipandang sebagai ketidakpercayaan atau pelanggaran atau ketidaktaatan, semuanya itu telah diungkapakan dalam Kej. 3. Menurut Alkitab, segala dosa pada hakikatnya sama dengan dosa yang diungkapkan di Kej. 3. Dosa merusak hubungan, baik hubungan antara manusia dengan Allah maupun hubungan antara manusia dengan manusia. Oleh karena dosa manusia membenci Allah ( Yoh. 15: 23), tidak layak disebut anak-anak Allah ( Luk 15: 21), tetapi manusia lalu juga membenci sesamanya (Kej. 3:12). Hakikat dosa berarti tidak mengindahkan hukum Tuhan. Dalam pengertian anomia berarti kehilangan hukum Tuhan sama dengan tidak adanya kepercayaan terhadap pribadi yang memberikan hukum itu, dan ingin merebut hak wewenang Allah.[16]

Akibat dosa
Dosa Adam dan Hawa bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri tanpa kaitan. Akibat-akibatnya terhadap mereka keturunannya dan terhadap dunia segera kelihatan.
a.       Sikap manusia terhadap Allah
Perubahan sikap Adam dan hawa terhadap Allah menunjukan pemberontakan yang terjadi dalam hati mereka. Bersembunyilah manusia dan istrinya itu terhadap Allah Yahweh diantara pohon-pohonan dalam taman ( Kej. 3:8), dan ditutupilah dirinya dengan cawat (Kej. 3:7). Padahal manusia diciptakan untuk hidup dihadapan Allah dan dalam persekutuan dengan Dia. Tapi sekarang setelah mereka jatuh ke dalam dosa mereka gemetar berjumpa dengan Allah. Rasa malu dan ketakutan yang sekarang marajai hati mereka, ( Bnd. Kej. 2:25;3:7,10) menunjukan bahwa perpecahan sudah terjadi.
b.      Sikap Allah terhadap manusia
Perubahan tidak hanya terjadi pada sikap manusia terhadap  Allah , tapi juga pada sikap Allah terhadap manusia. Hajaran hukuman , kutukan dan pengusiran dari Taman Eden, semuanya ini menandakan perubahan itu. Dosa timbul pada satu pihak , tapi akibat-akibatnya melibatkan kedua pihak. Dosa menimbulkan amarah dan kegusaran Allah, dan memang harus demikian sebab dosa bertentangan mutlak dengan hakikat Allah. Mustahil Allah masa bodoh terhadap dosa, karena mustahil pula Allah menyangkali diriNya sendiri.
c.         Akibat-akibatnya terhadap umat manusia
Sejarah umat manusia berikutnya melengkapai daftar kejahatan ( Kej. 4:8,19,23, 24;6:2,3,5). Dan timbunan kejahatan yang merajalela itu mencapai kesudahannya dlam pemusnahan umat manusia, kecuali 8 orang ( Kej. 6:7, 13; 7:21-24). Kejatuhan ke dalam dosa berakibat tetap dan menyeluruh, tidak hanya menimpa Adam dan Hawa, tapi juga menimpa segenap keturunan mereka ; dalam ihwal dosa dan kejahatan terkandung solidaritas insani, yakni sama-sama langsung terhisap dalam perbuatan dosa itu dan menanggung segala akibatnya.
d.      Akibat-akibat terhadap alam semua
Akibat –akibat dari kejatuhan ke dalam dosa meluas sampai alam semesta. ‘ terkutuklah tanah  ini kerena engkau’ ( Kej. 3: 17; bnd Rm 8:20). Manusia adalah mahkota seluruh ciptaan, jadilah menurut gambar Allah dan karena itu merupakan wakil Allah ( Kej. 1:26). Bencana kejatuhan manusia ke dsalam dosa mendatangkan bencana laknat atas alam semesta yang terjadinya manusia telah dikaruniai kuasa. Dosa adalah peristiwa dalam kawasan rohani manusia, tapi akibatnya menimpa seluruh alam semesta.
e.       Munculnya maut
Maut adalah rangkuman dari hukuman atas dosa. Inilah peringatan yang bertalian dengan larangan di Taman Eden ( Kej. 2:17 ), Maut sebagai gejala alamiah, porak  porandanya unsur-unusur kedirian manusia yang pada aslinya adalah utuh dan pandu sejali. Keporandaan ini melukiskan hakikat maut, yaitu keterpisahan manusia dari Allah , yang nyata pada pengusiran manusia dari Taman Eden. Oleh karena dosa, manusia gentar mengahadapi kematian (Luk. 12:5; Ibr. 2:15).[17]

Sebagai akibat dari perbuatan dosa, Millard J. Erickson[18] (2003:211-236)  menulis bahwa ada akibat yang ditimbulkan :
1.      Terhadap hubungan dengan Allah yang mencakup: Tidak diperkenan Allah, Rasa Bersalah, Penghukuman, Kematian.
2.      Terhadap orang yang berbuat dosa yaitu Perbudakan, lari dari kenyataan, Penolakan Dosa, menipu diri sendiri, ketidakpekaan,, mementingkan diri sendiri, ketidaktenangan.
3.      Terhadap sesama manusia : Persaingan, tidak mampu menaruh empati, menolak pihak yang berkuasa, tidak mampu mengasihi.


Kuasa Dosa
Rom. 5:12 memberi keterangan: “sebab itu, sama seperti dosa telah masuk kedalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, dengan demikian maut itu telah menjalar pada semua orang”. Di sini dosa digambarkan seperti suatu kuasa yang berpribadi, yang kemudian masuk ke dalam dunia. Oleh karena Adam sekalian manusia dikuasai oleh dosa, sebaliknya oleh karena Kristus, para manusia dikuasai oleh kasih karunia. Hidup yang dikuasai oleh dosa dapat disebut hidup yang berakar, bersandar serta berada di dalam suasana dosa. Dengan gambaran yang ada pada zaman sekarang, hidup yang dikuasai dosa tadi dapat digambarkan sebagai hidup yang dikuasai oleh suatu doktrin tertentu. Doktrin-doktrin ini menjiwai hidup orang sedemikian rupa sehingga keadaan hidupnya dikuasai oleh dosa.[19]

Teori Tentang Dosa
a. Teori Pelagian – Teori ketidak-berdosaan manusia secara alamiah. Teori ini berasal dari Pelagius, seorang rahib di Inggris yang lahir sekitar tahun 370 M. Ia mengajarkan bahwa dosa Adam hanya mempengaruhi dirinya. Ia berpendapat bahwa setiap jiwa manusia yang diciptakan Allah tidak berdosa dan bebas dari kecenderungan yang rusak. Allah menetapkan bahwa manusia bertanggungjawab untuk perbuatan dosa yang dengan sengaja ia lakukan. Roma 5:12 yang mengatakan bahwa maut telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa, ditafsirkannya bahwa itu telah menunjuk kepada kematian fisik yang berlaku kepada manusia setelah ia berbuat dosa.
b. Teori Arminian – Teori kerusakan yang diambil secara sukarela. Arminius seorang profesor di Belanda ( 1560-1609 ) mengajarkan teori tentang dosa yang dianggap Semi – Pelagianisme. Teori ini berpegang bahwa akibat dosa Adam manusia dilahirkan tanpa kebenaran dan tak berkemampuan memperoleh kebenaran. Namun manusia tidak diperhitungkan bersalah karena dosa Adam. Ia hanya bertanggungjawab karena dosa perbuatannya yang sadar. Mengenai Roma 5:12 ia menafsirkan bahwa maut telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa, yaitu bahwa manusia menderitakan konsekuensi dosa Adam. Karena itu Allah diwajibkan oleh tabiatNya untuk mengirimkan pengaruh Roh Kudus untuk meniadakan kecenderungan yang jahat yang diwarisi manusia karena kejatuhan Adam.
c. Teori Aliran Baru – Teori kerusakan yang tak-dapat-dihukum. Teori ini berdekatan dengan teori Arminian. Teori ini berpegang bahwa manusia hanya bertanggungjawab atas perbuatan pribadi, walaupun semua manusia lahir dengan kecenderungan untuk berdosa. Kematian bukanlah hukuman pada manusia, tetapi konsekuensi ketidak-senangan Allah atas pelanggaran Adam. Mengenai Roma 5:12 ditafsirkan bahwa kematian rohani melanda semua manusia, karena semua manusia secara aktual dan pribadi telah berdosa.
d. Teori Federal – Teori tuduhan oleh perjanjian. Teori ini berasal dari Cocceius ( 1603- 1669 ), seorang profesor Belanda, yang dikembangkan oleh Francis Turretin, juga seorang profesor Belanda. Teori ini berpegang bahwa Allah mengadakan perjanjian dengan Adam sebagai kepada perwakilan manusia, yang menjanjikan kehidupan kekal bila patuh, dan ada kematian dan kehancuran bila ia tidak menaati. Karena Adam berdosa maka semua keturunannya berdosa. Allah menyalahkan semua karena pelanggaran Adam. Teori ini berpegang bahwa setiap jiwa yang diciptakan Allah ada sifat buruk dan berdosa sebagai hukuman atas Adam.
e. Teori tuduhan tak langsung – Teori penghukuman karena kerusakan. Teori ini berasal dari Plaesus ( 1605-1655 ), seorang profesor Perancis. Ia mengajarkan bahwa semua manusia telah rusak secara fisik dan moral dan inilah sumber semua dosa di dalam manusia. Kerusakan fisik datang dari Adam karena pembiakan alami tetapi jiwa yang diciptakan Allah menjadi rusak saat bersatu dengan tubuh. Roma 5:12 ditafsirkannya bahwa semua berdosa karena mempunyai sifat alamiah yang berdosa.
f. Teori Augustinus – Teori pimpinan alami Adam. Teori ini pertama kali diterangkan oleh Augustinus ( 354-430 ), dan kemudian dilanjutkan oleh Tertulianus. Teori ini yang dipegang secara umum oleh para Reformator. Teori ini mengajarkan bahwa dosa Adam dituduhkan kepada generasi keturunannya yang belum lahir, karena kesatuan organis semua manusia “di dalam Adam”. Semua manusia ada di dalam di pinggangnya, walaupun belum lahir. Adam sebagai kepala perwakilan manusia, melakukan apa yang dilakukan manusia lain dalam percobaan yang sama. Roma 5:12 ditafsirkannya bahwa di dalam Adam semua manusia telah berdosa. Ini berarti kematian fisik, rohani dan kekal, dan semuanya terlibat dalam pimpinan Adam secara alamiah. Teori inilah yang paling Alkitabiah dibanding teori-teori yang lainnya.[20]



BAB III
KESIMPULAN
            Sejak semula Allah menciptakan manusia adalah manusia yang tanpa dosa tetapi pengaruh rayuan iblis di taman eden terhadap manusia (perempuan) itu menyakibatkan masuknya dosa dalam alam semesta. Sebagai akibatnya manusia diusir dari taman eden dan harus mengusahakan bumi dengan berjerih lelah dalam mencari rezeki. Hubungan Allah dan manusia menjadi rusak, hubungan manusia dengan manusia juga rusak, hubungan manusia dengan alam pun rusak juga, dan yang paling fatal adalah manusia itu harus mengalami kematian, baik kematian daging (sementara)  maupun kematian kekal (penghukuman kekal).


DAFTAR PUSTAKA
1.      Becker, Theol. Dieter, Pedoman Dogmatika, (Jakarta: BPK-GM, 2009)
2.      Berkhof, Louis,  Teologi Sistematika 2 (Doktrin Manusia), (Surabaya: LRII, 1994)
3.      Biblewoerks 8
4.      Chung, Sung Wook, Belajar Teologi Sistematika Dengan Mudah (Bandung: Visi Press, 2011)
5.      Dister ,Nico Syukur, Teologi Sistematika 2, (Yogyakarta: Kanisius, 2004)
6.      ………………………Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid A-L (Jakarta: YKBK, 2011)
7.      Erickson, J. Millard, Teologi Kristen (dua),(Malang: Penerbit Gandum Mas, 2003)
8.      Gitt, Werner, Keajaiban Manusia (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2009)
9.      Hadiwijono,H., Iman Kristen, ( Jakarta: BPK-GM, 2010)
10.  J. Thomy, Matakupan,  Kristano Julio, Doktrin Manusia dan Dosa, (Surabaya:Penerbit Momentum, 2013)
11.  Meeter, Henry, Pandangan-Pandangan Dasar Calvinisme (Surabaya: Penerbit Momentum, 2009)
12.  Millard, A. R., Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 1 ( A-l), ( Jakarta: YKBK, 1992)
13.  Niftrik, G.C. Van, B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini, (Jakarta: BPK-GM, 1990)
14.  Soedarmo, R., Kamus Istilah Teologi, (Jakarta: BPK-GM, 2002)
15.  https://gpdirapak.com/doktrin-tentang-dosa-hamartiologi/


[1] Matakupan. J. Thomy dan Kristano Julio, Doktrin Manusia dan Dosa, (Surabaya:Penerbit Momentum, 2013), hal 14,

[2] Erickson, J. Millard, Teologi Kristen (dua),(Malang: Penerbit Gandum Mas, 2003) hal 34-35
[3] Sung Wook Chung, Belajar Teologi Sistematika Dengan Mudah (Bandung: Visi Press, 2011), 46-47.
[4] . Werner Gitt, Keajaiban Manusia (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2009), 163.
[5] Biblewoerks 8
[6] Henry Meeter, Pandangan-Pandangan Dasar Calvinisme (Surabaya: Penerbit Momentum, 2009), 47.
[7] R. Soedarmo, Kamus Istilah Teologi, (Jakarta: BPK-GM, 2002), 21
[8] G.C. Van Niftrik & B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini, (Jakarta: BPK-GM, 1990), 466-467
[9] Theol. Dieter Becker, Pedoman Dogmatika, (Jakarta: BPK-GM, 2009), 101
[10] ..........., Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid A-L (Jakarta: YKBK, 2011), 256
[11] H. Hadiwijono, Iman Kristen, ( Jakarta: BPK-GM, 2010), 234
[12] ..........., Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid A-L (Jakarta: YKBK, 2011),257
[13] Louis Berkhof,  Teologi Sistematika 2 (Doktrin Manusia), (Surabaya: LRII, 1994), 85-91
[14] H. Hadiwijono, Iman Kristen, ( Jakarta: BPK-GM, 2010), 238
[15] Nico Syukur Dister, OFM, Teologi Sistematika 2, (Yogyakarta: Kanisius, 2004), 156
[16] R. Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika, (Jakarta: BPK-GM, 2002),153
[17] A. R. Millard, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 1 ( A-l), ( Jakarta: YKBK, 1992), 257-258
[18] Erickson, J. Millard, Teologi Kristen (dua),(Malang: Penerbit Gandum Mas, 2003) hal 211-236
[19] H. Hadiwijono, Iman Kristen, ( Jakarta: BPK-GM, 2010), 238-240
[20] https://gpdirapak.com/doktrin-tentang-dosa-hamartiologi/

DIA BUKAN JODOH Q...




Dia Bukan Jodoh Q…  Ini adalah perkataan yang sering terucap dari pasangan yang telah lama menikah, namun pada akhirnya memutuskan untuk berpisah. Sungguh ironis sekali, setelah menjalani hubungan sebagai suami – isteri sekian lama, mereka berkata bahwa mereka bukan jodoh. Lalu apa yang mereka pikirkan ketika mereka berpacaran, menghitung biaya nikah, bimbingan pra nikah, malam sebelum pernikahan, mengucapkan janji nikah (akad nikah)? Saya sangat yakin bahwa mereka pada masa itu merasa yakin, bahkan sangat yakin bahwa wanita / pria yang akan dia ceraikan sekarang adalah jodohnya.

 Satu kali masa beberapa tahun yang silam, seseorang yang saya kenal menyatakan bahwa dia dan pasangannya akan menikah. Saya sangat senang sekali. Setelah bertemu dengan pasangannya, saya merasa bahwa sesungguhnya mereka tidak cocok. Bahkan pernyataan saya itu diteguhkan oleh teman saya (Pendeta).  Dalam bimbingan pra nikah pun, pertanyaan yang sama disampaikan oleh pendeta, hasilnya mereka bersikukuh dan sangat yakin bahwa itulah jodohnya.

Tahun berganti, mereka tidak juga dikaruniakan anak, masalah timbul silih berganti tanpa ada yang terselesaikan. Bahkan ketika meminta pendapat kepada orangtua dari kedua belah pihak, solusinya adalah : CERAI. Zaman dahulu, orangtua sangat malu bila anaknya bercerai,zaman now : ENJOY aja. Zaman telah berubah, pemikiran pun berubah, sayangnya banyak perubahan yang terjadi lebih mengarah kepada hal yang negative.
Dan pada akhirnya mereka berpisah, beberapa waktu yang lalu, salah seorang dari mereka menikah lagi.

Saya sangat menentang perceraian, apapun alasannya.

                Sejauh yang saya tahu, orang batak sangat menentang perceraian, menghina perselingkuhan, membenci hubungan gelap, bahkan mengutuki SIOSE PADAN.

                Hari – hari ini, situasi telah bergeser, entah karena zaman, atau karena ketidakpedulian kita terhadap apa yang telah diajarkan oleh para pendahulu kita. Khususnya, masalah perceraian. Bila ingin berpisah, biasanya akan diperhadapkan kepada tua – tua kampong (natua-tua ni huta)  kita harus menjelaskan secara detail, apa, mengapa, bagaimana, sejak kapan kita terpikir untuk berpisah. Banyak nasehat, peringatan, wejangan, pertimbangan yang akan disampaikan oleh para tua-tua, yang meminta agar jangan terjadi perceraian bahkan sampai kepada yang paling keras yaitu HUKUMAN secara ADAT. Yang biasanya akan berakhir kepada rujuk kembali. Tradisi itulah yang melekat pada orang batak, sehingga sering dikatakan bahwa PASANGAN ORANG BATAK ADALAH PASANGAN YANG PALING SETIA. Tetapi sekarang ini, banyak yang bercerai dengan berbagai alasan, yang mana alasan tersebut, adalah alasan yang sama yang diucapkan oleh mereka yang telah bersikukuh untuk bercerai. Alasan yang umum adalah karena tidak memiliki keturunan (anak), alasan yang lain adalah karena ketidakcocokan pendapat bahkan sampai ketidakcocokan pendapatan.

                Menurut saya, alasan yang mereka buat itu, bukanlah sebuah kebenaran, melainkan PEMBENARAN terhadap apa yang mereka telah lama pikirkan. Mengapa demikian? Banyak yang menikah dan tidak dikaruniai anak, tetapi tetap bersama hingga ajal menjemput. Banyak yang selalu berbeda pendapat, tetapi mereka menganggap bahwa perbedaan itu sebagai cara Tuhan untuk membentuk mereka. Banyak  yang berbeda pendapatan, tetapi mereka tetap bersama karena mereka menyadari bahwa mereka dipersatukan untuk saling melengkapi satu dengan yang lain.

                So, berpisah atau tetap bersama tidaklah ditentukan oleh Anak, Pendapat, ataupun Pendapatan, karena sejak semula kita memang tidak punya anak, kita memang berbeda pendapat dan berbeda pendapatan, namun pada masa itu, keputusan telah diambil, bahwa akan menerima pasangan baik dalam suka/duka, susah/senang, sakit/sehat, kaya/miskin, dan lain sebagainya.

 Berpisah atau Bersama ditentukan oleh APAKAH KITA SIAP BERTAHAN DAN TETAP MENERIMA DIA seperti janji yang pernah diucapkan ketika menikah, apakah kita tetap PRIBADI yang sama dengan ketika janji itu diucapkan.

Bila hari ini, engkau terpikir untuk BERCERAI, STOP….. Usir jauh – jauh pikiran itu. Engkau sedang diperdaya oleh setan, yang menginginkan keluargamu hancur dan berantakan.

Bila hari ini, engkau terpikir bahwa dia bukan jodohmu, STOP… Buang jauh – jauh hal itu dari benakmu. Engkau sedang dituntun oleh Iblis ke dalam perangkapnya.

Bila engkau berpikir untuk berpisah karena tidak memiliki keturunan, STOP… Tuhan sedang mempersiapkanmu untuk menjadi orangtua bagi banyak orang. Cobalah pergi ke Panti Asuhan lihatlah anak – anak disana. Bisa jadi Tuhan mempersiapkanmu untuk menjadi orangtua asuh salah satu anak disana. Atau mungkin bukalah Panti Asuhan, hingga engkau menjadi orangtua bagi banyak orang. Coba bayangkan, bila engkau berpisah dari pasanganmu, lalu menikah dengan orang lain dan ternyata tidak juga diberi anak, apakah engkau akan meninggalkannya juga?

Bila Engkau berpikir untuk berpisah karena tidak memiliki keturunan, STOP….  Coba instropeksi diri, apakah kamu merasa nyaman dekat dengan anak-anak? Bila tidak nyaman, maka wajar bila kamu tidak memiliki anak. Karena Tuhan pastinya mengaruniakan kepada mereka yang layak.

Bila engkau berpikir untuk berpisah karena Ketidakcocokan, STOP…. Cobalah untuk melihat pasanganmu dari sisi atau sudut yang berbeda, jangan – jangan ketidakcocokan itu bukan berasal darinya tapi dari sisi dan sudut pandangmu. Bisa jadi kalian melihat objek yang sama tetapi kalian melihat dari sudut pandang yang berbeda, maka pastilah tidak cocok. Cobalah untuk menyamakan pandangan dan persepsi kalian berdua.

Bila engkau berpikir untuk berpisah karena beda Pendapatan (Khusunya apabila pendapatan isteri lebih banyak),  STOP…..  Ketahuilah kepada setiap orang dikarunikan berbeda – beda termasuk masalah pendapatan. Ketahuilah bahwa “ Tidak baik manusia itu seorang diri, maka Allah memberikan kepadanya PENOLONG yang sepadan”. Penolong bukan penodong ataupun perongrong.  

Penutup
Dalam Dunia Pendidikan, Butuh waktu 2 (dua) Tahun hingga 4 (empat) tahun Pendidikan, kemudian  6 (enam) bulan untuk bimbingan Skripsi atau Thesis, lalu menghadapi ujian meja hijau selama kurang lebih 30 (tigapuluh) menit  sampai dengan  120 (seratus duapuluh) menit. Selanjutnya, diwisuda atau berpesta.
Dalam Pernikahan, Kamu hanya menjalani 3 (tiga) bulan bimbingan Pra Nikah, lalu berpesta, selajutnya menghadapi Pendidikan dan Ujian seumur hidup.
Persamaan antara Pendidikan dan Pernikahan: Semua Orang Ingin Masuk Kesana, dan Semua orang yang masuk Ingin Keluar dari Sana.
Perbedaanya : Semua yang masuk kedunia Pendidikan harus segera menyelesaikannya secepat mungkin, dalam pernikahan tidak ada kata keluar kecuali karena maut.

Salam, 
Smart Kids Indonesia



Ps. Mangadar Sihaloho,A.Md.,S.Pd




   



   

Rabu, 23 Januari 2019

Model Kepemimpinan : Menyambut Bebasnya "BTP"



(SGF) Sekarang ini lagi hangat dibahas tentang kebebasan  "BTP"  besok hari yaitu Kamis, 24 Januari 2019. Ada yang berharap begitu beliau keluar langsung diangkat menjadi Menteri, ada pingin dia jadi ketua KPK. Apapun yang direncanakan oleh banyak orang tentang pak BTP, keputusan tetaplah berapa ditangan beliau. Pesan beliau kepada para pendukung adalah agar tidak melakukan penyambutan yang terlalu berlebihan, dikhawatirkan dapat menggangu kenyamana orang lain. 

Presiden Jokowi belum ada memberi respon tentang bebasnya BTP besok, sebagai teman dan sahabatnya, tentulah beliau juga turut berbahagia menyambut bebasnya BTP. Kita tunggu respon dan tanggapan presiden jokowi besok setelah BTP bebas.  

Sedikit review bagi kita Model Kepemimpinan 2 Tokoh  negeri ini. 

1. IR. JOKO WIDODO  (JOKOWI) – PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Jika memandang fisik dan cara berbicaranya bapak yang satu ini, orang terkadang tidak yakin bahwa beliau adalah Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia ke 7 (tujuh). Cara bicaranya pelan, lambat, sedikit mendayu, dan terkadang cengengesan dengan gaya ketawanya yang unik.
Ketika baru menjabat, banyak kata – kata yang tidak pantas, foto – foto hasil rekayasa, ujaran – ujaran, yang dialamatkan kepada beliau oleh para lawan politiknya. Mereka mengatakan bahwa jokowi bukanlah sosok pemimpin idaman, dia hanyalah seorang tukang kayu dari Surakarta, dia tidak cocok menjadi presiden, dia lemah, kurus, tidak gagah dan berotot seperti lawan politiknya dulu, bahkan ada yang dengan arogannya mengatakan bahwa masa kepemipinannya tidak akan sampai 1 (satu) tahun.
Salah satu kegemaran Jokowi adalah memelihara kodok, katak di kolam. Karena kegemarannya itu, beliau juga dicaci maki, diejek, disebut sebagai presiden kodok, disebut Jokodok, tetapi beliau hanya tersenyum dan tertawa cengegesan, seakan tidak peduli dengan apa yang sedang diperbincangkan orang lain tentang dirinya. Saya secara pribadi mencoba merenungkan, apa sebenarnya dibalik kegemaran beliau memelihara kodok? Mengapa beliau sampai membawa kodoknya ke Istana Negara? Ada apa dengan KODOK?
Saya mencoba me-review  kembali apa yang pernah saya pelajari tentang kodok (katak), tanpa berpikir terlalu lama, saya mengingat kata Metamorfosis. Metamorfosis adalah suatu proses perkembangan biologi pada hewan yang melibatkan perubahan penampilan fisik dan/atau struktur setelah kelahiran atau penetasan. Perubahan fisik itu terjadi akibat pertumbuhan sel dan differensiasi sel yang secara radikal berbeda Dari arti kata tersebut, saya memahami bahwa pak Jokowi menyadari bahwa kehidupan ini tidak terlepas dari sebuah proses, perubahan demi perubahan terjadi dalam hidup ini, walaupun dari segi fisik, beliau, pak Jokowi terlihat biasa saja tetapi di dalam diri beliau sedang berlangsung metamorphosis yang menjadikan beliau luarbiasa dan di luar prediksi semua orang.
Setelah menduduki kursi kepemimpinannya, Jokowi memilih orang – orang yang dapat dipercaya menjadi pendampingnya (menteri) menjalankan pemerintahan. Ternyata, beliau tidak bisa menentukan sesuka hatinya,karena ada partai pendukungnya di pilpres yang minta jatah. Banyak yang kecewa dengan formasi yang telah ditetapkan oleh beliau, terutama masyarakat sumatera utara, Kalimantan, irian jaya (kantong-kantong suara jokowi) tetapi beliau berusaha meyakinkan bahwa waktunya belum tepat untuk melakukan apa yang telah dirancang sebelumnya.
Beliau tidak banyak bicara, tetapi banyak bekerja, berani memangkas semua pengeluaran maupun aturan yang tidak pro rakyat, memecat, mengganti yang tidak kompeten, dan yang luarbiasa adalah ketika beliau mencanangkan pembangunan bermula dari desa, yang mana memiliki arti pembangunan akan dimulai dari daerah dan bukan hanya di pulau jawa saja.
Yang paling menakjubkan menurut saya dalam kepemimpinan Jokowi adalah selalu punya trik jitu untuk memecah ombak yang sedang bergelora, dan triknya itu tak terpikirkan oleh orang – orang biasa. Meskipun pada awalnya tampak meragukan tetapi perlahan namun pasti, apa yang dirancangkan berjalan dengan sangat baik, bahkan diluar perkiraan.
Beliau berperang, tidak dengan menggunakan jurus The art of war tetapi menggunakan jurus the art of Diplomacy, dengan mengunjungi orang – orang yang membencinya, dengan menjanjikan sesuatu kepada orang yang membencinya, agar mendukung programnya, tetapi tetap memiliki prinsip we do it with my way, dengan irama, suara, dan gayanya jokowi, jika tidak mau searah, sesuara, maka silakan ambil jalan lain. Dan sejauh ini, cara itu berhasil.
Beliau memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kekuasaannya, beliau menyadari bahwa yang memilih beliau adalah rakyat, bukan partai, bukan anggota legislative, sehingga beliau lebih mendengar apa yang menjadi keluhan masyarakat dengan turun langsung ke lapangan, bukan hanya mendengar laporan dari bawahan. Beliau beranggapan bahwa kehadirannya di lapangan akan memberi efek domino bagi masyarakat dan bagi program yang sedang dijalankan, sehingga tidak ada lagi laporan palsu yang masuk ke meja presiden, melainkan laporan konkrit dan dapat dipertanggungjawabakan kebenarannya.
Keberadaan penasehat yang tepat juga menjadikan Jokowi tak terduga, ide dan gagasannya. Penempatan Luhut Binsar Panjaitan sebagai pembantunya, menjadikan Jokowi luarbiasa, karena jokowi bukan orang militer, maka beliau butuh orang yang paham tentang militer di sampingnya, sehingga jika berbicara tentang ke-militeran, saran dan pandangan Luhut, sebagai orang yang orang yang berpengalaman  dibidangnya sangatlah dibutuhkan.
The art of Diplomacy-nya Jokowi selalu dicaci, diejek oleh sebagian orang, tetapi pada akhirnya mereka dapat melihat, bahwa siapa saja yang berlawanan dengan Jokowi, akan bertekuk lutut dan minta bergabung dalam gerbongnya Jokowi. Bijak dalam melihat situasi, tenang dalam mengambil keputusan, berani bertindak walau ditentang oleh sebagian orang, hormat kepada yang seharusnya memperoleh rasa hormat itu, tunduk pada aturan, serta tetap merakyat


2. BASUKI TJAHAYA PURNAMA (AHOK) – (EX) GUBERNUR DKI JAKARTA
Namanya sudah menjadi perbincangan di kalangan rekan – rekannya semenjak beliau menjadi anggota DPR RI, karena ulahnya yang selalu membuat orang capek, terutama masalah keuangan. Dalam setiap perjalanan dinas, Ahok selalu mengembalikan sisa uang perjalanan dinasnya, sehingga rekan – rekannya yang seperjalanan dengannya merasa kesal, karena mereka biasanya tidak mau mengembalikan sisa uang perjalanan dinas, akibatnya mereka harus buat laporan sisa uang perjalanan dinas. Hal itu membuat rekan – rekannya merasa gerah bila bekerja sama dengan Ahok.
Ahok memiliki motto “Bersih, transparan, professional”, sebagai buktinya, iya selalu memposting laporan keuangan dan gajinya selama berada di DPR RI di laman website – nya.
Ahok juga dikenal dengan ketegasannya, ditambah karena dia adalah seorang Kristen – tionghoa, gaya bicaranya yang apa adanya, ceplas ceplos, dan terkadang juga kelewatan hingga sering menyinggung perasaan orang – orang berperasaan halus.
Dia semakin dikenal ketika dicalonkan menjadi wakil gubernur DKI Jakarta periode 2012 – 2017 mendampingi Jokowi Widodo, memenangi pertarungan itu dan menjabat sebagai wakil gubernur hingga 2014 dan tahun 2015 menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Sejak menjabat di DKI Jakarta, Ahok sering bertentangan dengan pihak legislatif karena cara pandang mereka yang berbeda dalam melihat suatu permasalahan. Ahok sangat ketat dalam hal biaya atau dana, sementara pihak legislatif sangat loyar atau gampangan masalah biaya atau uang, sehingga sangat seringlah terjadi perdebatan panjang yang tak berujung, dan ia pun tidak disukai oleh para legislator di DKI Jakarta, tetapi hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk membenahi DKI Jakarta.
Masalah utama Jakarta yang paling sering dikeluhkan adalah masalah banjir, macet, pengangguran. Ahok mencoba mencari cara untuk mengatasai semua itu, yaitu dengan membentuk pasukan. Pasukan Orange, bagian yang menangani pembersihan sampah, pasukan hijau adalah bagian yang mengurusi bagian pertamanan, pasukan biru adalah bagian yang mengurusi masalah saluran air atau banjir. Darimana mereka itu semua? Ahok mencari orang – orang yang pengangguran tetapi memiliki banyak tanggungan, ditambah dari warga yang kena gusur, para peminta – minta. Mereka digaji sebesar UMK Jakarta bahkan lebih. Untuk mengatasai macet, Ahok menggenjot pembangunan jalan, penertiban, pedagang kaki lima, penertiban parkir liar. Ahok mengangkat para preman pasar untuk menjadi petugas penjaga parkir elektronik. Selain itu, Ahok juga memperbanyak bus trans Jakarta dan sejenisnya, menarik bus dan angkutan umum yang telah tua dan tak laik operasi lagi.
Hasilnya, banyak daerah DKI Jakarta yang sudah bebas banjir, banyak daerah Jakarta yang tidak macet lagi, jalanan bersih dari sampah, sungai – sungai tertata rapi, taman bermain semakin banyak dan ramah anak.
Kepemimpinan Ahok, memamg controversial, tetapi disukai banyak orang, terutama orang dengan penghasilan menengah ke bawah. Sebaliknya sangat dibenci oleh mereka yang memikirkan kepentingannya sendiri tanpa memperhatikan penderitaan orang lain.
Ahok menguasai apa yang dia kerjakan, bahkan lebih dari yang diperhitungkan oleh banyak orang, termasuk para lawan politiknya, terlebih lagi, dia takut akan Tuhan.
Ahok keras kepada orang yang keras dan lembut kepada orang kecil. Terbukti, dengan dibukanya kesempatan kepada masyarakat untuk mengadukan, menyampaikan keluhannya kepada Ahok secara langsung di balai kota, sebelum beliau memasuki ruang kerjanya.
Secara pribadi, saya bingung sendiri dengan Ahok, beliau lulusan Magister Manajemen tetapi menguasai apa saja yang ditanyakan kepadanya, baik masalah hukum, teknis pelaksanaan, dan berbagai masalah lainnya. Saya melihat, beliau sepuluh kali lebih pintar dan bijak dibandingkan orang – orang yang selevel dengan beliau.


SUSI PUDJIASTUTI MASUK 100 BESAR PEMIKIR DUNIA 2019




(SGF)Siapa yang menduga bahwa wanita yang hanya tamatan SMP ini menjadi salah satu pemikir yang diperhitungkan oleh dunia. Dialah SUSI PUDJIASTUTI Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, seorang yang awalnya dipandang sebelah mata oleh mereka yang memiliki gelar yang mentereng.

kebijakan - kebijakan yang dibuat oleh bu susi awalnya banyak ditentang oleh para nelayan dan pengusaha perikanan tetapi dengan pendekatan dan sosialisasia yang tepat, semua permasalahan dapat diselesaikan dengan baik. Sehingga memberikan hasil yang memuaskan yaitu : Tersedianya Stok Ikan yang banyak dan melimpah bagi rakyat Indonesia dan terjaganya keamanan laut indoensia dari para pencuri ikan. 

Susi Pudjiastuti menjadi satu - satunya wakil dari Indonesia dalam majalah Foreign Policy  tersebut. Dan yang luar biasanya adalah beliau masuk dalam kategori PERTAHANAN DAN KEMANAN. Atas prestasi beliau menjaga ketersediaan Stok Ikan dan Keamanan kelautan Indonesia. 

Bravo Bu SUSI
Jayalah Indonesia   

Selasa, 22 Januari 2019

SEMINAR NASIONAL "The 3rd Pentecost and its movement"

SEMINAR NASIONAL
"The 3rd Pentecost and its movement"
Seminar yang akan membahas kajian tentang Kegerakan Pentakosta Ketiga, sejarah, konteks dan prospek teologis.
untuk info lebih lanjut dapat menghubungi no hp yg tertera di brosur




ANDROID “PERUSAK” MASA DEPAN

Smart People, jagalah anak kita dengan segala kewaspadaan yang kita miliki. Karena existensi kita ditentukan oleh keturunan kita (anak...